Isra Mi'raj Momentum Introspeksi Beragama

PERINGATAN Isra Mi’raj selalu diperingati setiap tahun, merupakan momen sangat berharga bagi umat Islam, khusunya di tanah air. Namun, di Bangka Belitung, momen ini dimanfaatkan warga untuk “nganggung” ke masjid sambil mendengarkan ceramah yang disampaikan para ustadz.

Diperingatinya Isra Mi’raj berdasarkan sejarah kerasullan, yaitu dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam karena pada peristiwa ini, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW “diberangkatkan” oleh Allah Subhana Wata'ala dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril di sini. Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu. Peringatan yang sering disebut sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW berupa perjalanan malam hari dari Masjid Haram (Makkah) ke Masjid Aqsha (Palestina) dilanjutkan dengan naik ke Sidratul Muntaha menghadap Allah SWT.

Mirisnya, dewasa ini, kiblat ilmu dan teknologi adalah barat. Umat Islam masih kurang memperhatikan kehidupan perilaku beragama dimana banyak terjadi perbuatan, seperti kenakalan remaja, kajahatan narkoba, korupsi, terorisme, pembunuhan sadis, dan lain-lain. Padahal, jika umat Islam menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan umat Islam adalah tonggak dan pondasi dalam pembangunan di negeri ini dari menyimak misteri hidup dan kehidupannya. Akibatnya, pengetahuan agama berjalan di tempat, perkembangan ilmu agama tidak seimbang dengan perkembangan dinamika sosial yang bergerak cepat.

Melalui momen Isra Mi’raj setiap tahun, peringatan ini jangan dimaknai sebagai seremonial belaka, tetapi lebih dalam dari itu, kita harus meneladani akhlak Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik. Shalat adalah satu-satunya kewajiban dan menjadi kebutuhan umat Islam yang amarnya diturunkan langsung oleh Allah SWT. Hal itu menunjukkan betapa tingginya posisi ibadah shalat. Wajar kalau kemudian shalat, sebagaimana tersebut dalam sejumlah hadis Nabi SAW, merupakan tiang agama, akan runtuh keislaman seseorang jika meninggalkan atau tidak mendirikan shalat. Sebab, shalat merupakan penentu diterima tidaknya amal saleh seseorang serta menjadi ibadah paling utama dalam Islam. Shalat juga merupakan amal perbuatan yang pertama kali dihisab di akhirat dan menentukan baik-buruknya amal seseorang.

Sementara itu, sepanjang kehidupan manusia, Allah memberikan petunjuk melalui para rasul tentang agama dan kehidupan keagamaan yang benar. Para rasul juga berfungsi untuk memberikan petunjuk guna meningkatkan daya akal budi manusia alam menghadapi dan menjawab tantangan serta memecahkan permasalahan kehidupan umat manusia yang terus berkembang sepanjang sejarahnya. Agama yang dibawa Rasul Allah itu bukan hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan semata, tetapi juga menyangkut kehidupan sosial budaya lainnya.

Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwanya berbudi pekerti dengan adab yang sempurna, baik dengan Tuhan-Nya maupun lingkungan masyarakat. Semua agama sudah sangat sempurna dikarenakan dapat menuntun umatnya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. Keyakinan, sikap, dan perilaku manusia adalah hasil perjalanan proses yang panjang bagi pembentukan perilaku bergama.

Momen peringatan Isra Mi’raj paling tidak menjadi introspeksi perilaku beragama. Manusia melakukan perilaku agama semata-mata didorong oleh keinginan untuk menghindari keadaan bahaya yang akan menimpa dirinya dan memberi rasa aman bagi dirinya sendiri. Untuk keperluan itu, manusia menciptakan suatu konsep yang dapat melindungi dirinya dari segala bahaya itu. Konsep itu tersimpul pada kata “Tuhan”. Tuhan yang diciptakannya sendiri dalam pikirannya dan itulah yang disembahnya. Sementara itu, ritual pelaksanaan penyembahan kepada Tuhan sangat bergantung pada contoh yang diperlihatkan oleh orang yang terdahulu melakukannya.

Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang dapat memberikan perlindungan. Demikian juga sebaliknya, dapat memberikan siksaan. Agar Tuhan senantiasa memberikan perlindungan, harus dicari keinginan dan kehendak Tuhan dengan jalan melakukan ibadah atau ritual. Selamat hari raya Isra Mi’raj.

*Artikel pernah dimuat pada koran harian Bangka Pos tanggal 07 Mei 2016.

Penulis: 
Fatwa Omaya
Sumber: 
DPPKAD Prov. Kep. Bangka Belitung
Tags: 
Isra Mi'raj

Artikel

23/08/2017 | BADAN KEUANGAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
23/08/2017 | BADAN KEUANGAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
20/03/2017 | BADAN KEUANGAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
31/01/2017 | Humas Badan Keuangan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
11/01/2017 | Humas Bakuda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
11/01/2017 | Adinda Chandralela
31/01/2017 | Adinda Chandralela
11/05/2016 | Fatwa Omaya, Editor: Adinda Chandralela, Foto: Lisia Ayu Andini